Jakarta, 27 Agustus 2026 — Produk pangan olahan Indonesia kembali menunjukkan daya saing di pasar Amerika Latin. Dua pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia berhasil membukukan pesanan dari pasar Chile senilai 29 ribu dolar AS atau sekitar Rp510 juta.
Transaksi tersebut mencakup beragam produk olahan buah, sayuran, serta camilan berbasis tempe. Capaian ini tidak hanya mencerminkan kemampuan UMKM Indonesia menghasilkan produk bernilai tambah, tetapi juga membuka peluang perluasan pasar ekspor melalui jaringan distribusi ritel internasional.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi mengatakan respons positif dari pasar Chile berpotensi berkembang menjadi transaksi lanjutan dengan nilai yang sama.
Menurut dia, apabila penerimaan pasar berlanjut, kedua UMKM tersebut berpeluang memperoleh tambahan transaksi hingga 29 ribu dolar AS.
“Transaksi ini dapat menjadi awal keberlanjutan kerja sama jangka panjang dengan buyer setempat.”
Pesanan tersebut merupakan hasil tindak lanjut partisipasi pelaku usaha Indonesia dalam Espacio Food & Service 2025, pameran makanan dan minuman yang berlangsung di Chile. Komunikasi bisnis kemudian difasilitasi melalui sinergi Kementerian Perdagangan, Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Santiago, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Santiago.
Dari produk lokal menuju pasar global
Dua perusahaan yang berhasil merealisasikan transaksi tersebut adalah CV Pangantama Makmur Abadi dan CV Arva Indonesia.
CV Pangantama Makmur Abadi memasok berbagai produk keripik berbahan buah dan sayuran, antara lain keripik mangga, apel, nangka, brokoli, dan jamur. Sementara itu, CV Arva Indonesia membawa produk keripik tempe dengan sejumlah varian rasa, seperti truffle, honey butter, serta Himalayan salt basil.
Pengiriman produk dari Indonesia telah dilakukan pada pekan kedua Agustus 2026. Produk diperkirakan tiba di Chile pada Oktober mendatang untuk kemudian didistribusikan melalui jaringan ritel setempat.
Keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa peluang ekspor UMKM tidak berhenti pada keikutsertaan dalam pameran dagang. Yang lebih menentukan adalah kemampuan mengubah pertemuan bisnis menjadi hubungan dagang berkelanjutan, termasuk memenuhi standar produk, selera konsumen, kapasitas produksi, serta konsistensi pasokan.
Chile menjadi pasar strategis
Capaian dua UMKM tersebut berlangsung di tengah hubungan perdagangan Indonesia-Chile yang masih mencatatkan surplus bagi Indonesia.
Pada periode Januari-Juni 2026, nilai perdagangan kedua negara mencapai 277,4 juta dolar AS. Ekspor Indonesia tercatat 219,8 juta dolar AS, sementara impor dari Chile sebesar 57,6 juta dolar AS, sehingga Indonesia membukukan surplus 162,2 juta dolar AS.
Sepanjang 2025, perdagangan bilateral mencapai 534,9 juta dolar AS. Indonesia mencatat ekspor sebesar 440,8 juta dolar AS dan impor 94 juta dolar AS, dengan surplus perdagangan mencapai 346,8 juta dolar AS.
Struktur ekspor Indonesia ke Chile selama 2025 masih didominasi kendaraan dan komponennya, alas kaki, pupuk, mesin dan peralatan mekanik, serta kertas dan karton. Sementara impor Indonesia dari Chile antara lain berupa ikan dan udang, bubur kayu, pupuk, buah-buahan, serta produk hasil penggilingan.
Masuknya produk olahan pangan UMKM ke jaringan ritel Chile memberikan sinyal bahwa diversifikasi ekspor menjadi semakin penting. Produk pertanian yang diolah menjadi pangan siap konsumsi memiliki peluang menciptakan nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan ekspor komoditas dalam bentuk mentah.
Tantangannya kini adalah memastikan keberhasilan transaksi awal tersebut dapat berkembang menjadi kontrak berulang. Konsistensi mutu, inovasi produk, efisiensi produksi, dan kemampuan memenuhi permintaan pasar internasional akan menjadi faktor penting agar UMKM Indonesia tidak sekadar hadir di pasar global, tetapi mampu bertahan dan memperluas pangsa pasarnya.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!