SRAGEN, Agrinews.com— Persaingan produk kuliner lokal tidak lagi hanya ditentukan oleh rasa. Di tengah perubahan perilaku konsumen dan kuatnya pemasaran digital, identitas merek menjadi salah satu faktor penting agar produk UMKM mampu dikenali, diingat, dan memiliki posisi di pasar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) saat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Karungan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen.
Mahasiswa KKN, Yahya Abid Abiyyu Mahdy, melihat potensi pengembangan pada usaha kuliner lokal BANANA YASSIR. Produk tersebut menawarkan keripik pisang dengan konsep berbeda melalui tambahan beragam saus cocolan, di antaranya cokelat, matcha, cappuccino, dan tiramisu.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata kualitas produk, melainkan bagaimana produk tersebut dikomunikasikan kepada calon konsumen.
Atas dasar itu, program KKN diarahkan pada penguatan identitas merek melalui rebranding. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperbarui desain logo agar tampil lebih modern dan mudah dikenali tanpa menghilangkan karakter BANANA YASSIR sebagai produk lokal Karungan.
Selain logo, mahasiswa juga menyusun tagline “Level Baru Makan Keripik Pisang!” sebagai pesan komunikasi yang hendak mempertegas keunikan produk.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pendampingan UMKM di tingkat desa dapat diarahkan lebih jauh dari sekadar membantu produksi atau pemasaran sesaat. Aspek komunikasi, kemasan, identitas visual, hingga cara sebuah produk membangun persepsi konsumen juga menjadi bagian penting dalam membentuk daya saing.
Namun, rebranding bukan jaminan otomatis penjualan akan meningkat. Logo dan tagline hanya menjadi pintu masuk. Agar perubahan tersebut menghasilkan dampak ekonomi, BANANA YASSIR tetap membutuhkan konsistensi kualitas produk, kemasan yang kompetitif, penetapan harga yang tepat, pelayanan konsumen, pemasaran digital, serta kemampuan menjangkau pasar yang lebih luas.
Di titik inilah program KKN memiliki tantangan lebih besar. Pendampingan UMKM seharusnya tidak berhenti ketika mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian. Identitas baru perlu diterapkan secara konsisten dan diikuti strategi pemasaran yang mampu mengubah perhatian konsumen menjadi pembelian berulang.
Bagi Karungan, keberadaan BANANA YASSIR juga memperlihatkan bahwa potensi ekonomi lokal tidak selalu harus berasal dari usaha berskala besar. Produk sederhana berbasis komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah ketika inovasi dan strategi komunikasi berjalan beriringan.
Program tersebut sekaligus menjadi contoh bagaimana ilmu komunikasi dapat diterapkan langsung untuk menjawab persoalan nyata pelaku usaha. Bukan hanya berbicara mengenai teori branding di ruang kelas, mahasiswa dituntut membaca kebutuhan pasar dan menerjemahkannya ke dalam identitas yang dapat digunakan pelaku UMKM.
Jika konsisten dikembangkan, perubahan wajah BANANA YASSIR bukan sekadar pergantian logo. Lebih jauh, langkah itu dapat menjadi bagian dari proses membangun merek lokal yang memiliki karakter, mampu bersaing, dan berpeluang membawa produk UMKM Karungan keluar dari pasar terbatas menuju konsumen yang lebih luas.
Lg/fk
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!