Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

PERTANIAN

Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi

Redaksi Redaksi • 03 Sep 2026 • 61 • 0 • 3 menit
Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi

TABANAN , Agrinews.com— Pengembangan Desa Lalanglinggah tidak cukup hanya berhenti pada upaya memperkenalkan potensi wisata. Di balik dorongan menjadikan desa sebagai destinasi, terdapat pekerjaan yang jauh lebih penting: memastikan potensi tersebut benar-benar mampu menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.

Penguatan pertanian, lingkungan, pariwisata dan pemberdayaan masyarakat menjadi agenda yang berjalan beriringan dalam pelaksanaan Bungan Desa ke-64 di Lalanglinggah. Pemerintah Kabupaten Tabanan mendorong agar potensi desa tidak hanya menjadi daya tarik, tetapi berkembang menjadi sumber penghidupan baru bagi warga.

Pengembangan desa wisata berpeluang membuka ruang ekonomi bagi pelaku UMKM, ekonomi kreatif, kuliner, kerajinan maupun jasa pariwisata. Namun, peluang tersebut membutuhkan ekosistem yang jelas. Masyarakat lokal harus menjadi bagian utama dari rantai ekonomi, bukan sekadar menjadi penonton ketika aktivitas wisata mulai berkembang.

Di titik inilah pembangunan desa diuji. Keberhasilan desa wisata tidak semata-mata diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi dari seberapa besar manfaat ekonomi yang tinggal dan berputar di desa.

Bungan Desa Tak Semestinya Berhenti pada Seremonial

Program Bungan Desa menjadi salah satu pendekatan Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk membawa pelayanan pemerintahan lebih dekat dengan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, perangkat daerah hadir di tengah masyarakat sehingga persoalan dan aspirasi warga dapat disampaikan secara langsung.

Bupati Tabanan Sanjaya menekankan bahwa pembangunan akan lebih efektif ketika pemerintah memahami kondisi masyarakat secara langsung.

Perspektif tersebut menjadi penting karena persoalan desa tidak selalu dapat dibaca hanya melalui laporan administratif. Kondisi pertanian, kebutuhan infrastruktur, persoalan ekonomi warga, pengembangan UMKM hingga pengelolaan potensi wisata memiliki persoalan yang berbeda di setiap wilayah.

Karena itu, Bungan Desa idealnya menjadi ruang evaluasi dan penyelesaian masalah, bukan sekadar agenda kunjungan pemerintah ke desa.

Potensi Besar, Tetapi Manfaat Ekonomi Harus Terukur

Lalanglinggah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara terpadu. Pertanian dapat menjadi bagian dari wisata edukasi, produk lokal dapat masuk dalam rantai ekonomi pariwisata, sementara sektor kuliner dan ekonomi kreatif dapat menjadi penggerak usaha masyarakat.

Tetapi pengembangan tersebut membutuhkan strategi jangka panjang.

Pertanyaan pentingnya adalah siapa yang mengelola, siapa yang memperoleh manfaat, bagaimana masyarakat dilibatkan, serta bagaimana keberlanjutan lingkungan tetap dijaga ketika jumlah kunjungan meningkat.

Tanpa perencanaan tersebut, label desa wisata berisiko hanya menjadi identitas administratif tanpa memberikan perubahan signifikan terhadap pendapatan masyarakat.

Sebaliknya, jika dikelola dengan prinsip pemberdayaan, desa wisata dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat usaha warga sekaligus mempertahankan karakter lokal.

Pemerintah Tidak Bisa Berjalan Sendiri

Bupati Sanjaya juga mengajak masyarakat Lalanglinggah menjaga dan mengembangkan potensi yang dimiliki desa.

Pembangunan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Desa adat, kelompok tani, pelaku UMKM, generasi muda dan masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan arah pengembangan desa.

Kolaborasi menjadi semakin penting ketika sektor pertanian dan pariwisata ditempatkan dalam satu strategi pembangunan. Pertanian tidak harus ditinggalkan ketika pariwisata tumbuh. Justru sektor pertanian dapat menjadi kekuatan yang membedakan desa dari destinasi wisata lainnya.

Produk pertanian lokal, tradisi masyarakat, kuliner, kerajinan dan aktivitas keseharian warga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata selama dikelola secara tepat.

Membangun Desa Berarti Membangun Ekonomi Warga

Pelaksanaan Bungan Desa ke-64 di Lalanglinggah pada akhirnya membawa pesan yang lebih besar: pembangunan harus dimulai dari kebutuhan masyarakat di tingkat desa.

Penguatan pertanian, pelestarian lingkungan, pemberdayaan ekonomi dan pengembangan pariwisata tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Keempatnya perlu dirancang dalam satu ekosistem agar pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan lingkungan dan identitas lokal.

Lalanglinggah memiliki peluang untuk berkembang menjadi desa dengan daya tarik wisata sekaligus ketahanan ekonomi. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah dan masyarakat dalam mengawal proses tersebut.

Sebab, desa wisata yang kuat bukan hanya desa yang ramai dikunjungi, melainkan desa yang masyarakatnya ikut tumbuh, memperoleh manfaat dan memiliki ruang menentukan masa depan desanya sendiri.

Sumber: Gentra

— Iklan — PT INDOFAS AGRO NUSANTARA
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!