Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

AGRI BUSINESS

KKI 2026 Jadikan Aceh Etalase UMKM, Dekranas Dorong Produk Lokal Naik Kelas

Redaksi Redaksi • 27 Aug 2026 • 46 • 0 • 3 menit
KKI 2026 Jadikan Aceh Etalase UMKM, Dekranas Dorong Produk Lokal Naik Kelas

JAKARTA – Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 menjadi momentum strategis bagi pelaku UMKM Aceh untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal. Aceh ditetapkan sebagai wilayah tematik dalam ajang yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (20/8/2026).

Ketua Dekranas Aceh, Marlina Usman, hadir bersama Ketua Bhayangkari Aceh, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Aceh, serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh. Kehadiran tersebut menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan UMKM, khususnya dalam memperkuat promosi produk unggulan Aceh di pasar yang lebih luas.

KKI 2026 mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing” dengan semangat Aceh “Beudaya Meusare-Sare” yang bermakna berdaya bersama.

Pjs Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pemilihan Aceh sebagai wilayah tematik tidak terlepas dari kekayaan budaya dan kreativitas masyarakatnya. Menurutnya, penguatan UMKM membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar pelaku usaha mampu bertahan sekaligus berkembang.

Bagi Marlina, kepercayaan tersebut menjadi kesempatan bagi perajin dan pelaku UMKM Aceh untuk memperkenalkan kualitas produknya kepada pasar nasional maupun internasional.

Ia menilai produk Aceh, mulai dari wastra, kriya hingga kuliner, memiliki potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas, inovasi dan perluasan akses pasar.

Marlina juga mendorong pelaku UMKM agar tidak berhenti pada promosi, tetapi menjadikan momentum KKI sebagai bagian dari proses peningkatan kapasitas usaha. Standar mutu, inovasi produk, kemasan, serta pemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi faktor penting agar produk lokal mampu bersaing secara berkelanjutan.

“Dengan bergotong royong dan bersinergi, produk-produk lokal Aceh mampu bersaing dan memiliki nilai jual yang tinggi,” ujar Marlina.

Dorongan tersebut menunjukkan bahwa penguatan UMKM Aceh tidak hanya bergantung pada keikutsertaan dalam pameran, tetapi juga membutuhkan konsistensi dalam menjaga kualitas dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.

Melalui KKI 2026, produk kreatif Aceh mendapat ruang lebih luas untuk dikenal. Tantangan berikutnya adalah memastikan peluang tersebut berlanjut menjadi akses pasar, peningkatan omzet, dan terbukanya peluang ekspor bagi pelaku usaha daerah.

Sumber: Pemerintah Aceh

— Iklan — SELAMAT MAULID NABI MUHAMMAD
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!