Jumat, 02 Oktober 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

PERTANIAN

Makam Troloyo, Jejak Islam di Jantung Majapahit

Redaksi Redaksi • 23 Aug 2026 • 12 • 0 • 3 menit
Makam Troloyo, Jejak Islam di Jantung Majapahit

MOJOKERTO – Makam Troloyo di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, menjadi salah satu situs bersejarah yang memperlihatkan jejak perkembangan Islam di tengah kawasan yang dikenal sebagai pusat peninggalan Kerajaan Majapahit.

Kompleks makam ini menjadi tujuan wisata religi sekaligus sejarah. Salah satu makam yang paling ramai dikunjungi peziarah adalah makam Syekh Jumadil Kubro.

Dikutip dari laman Agrinews, aktivitas ziarah di makam Syekh Jumadil Kubro disebut telah tercatat sejak 1864 dan terus berlangsung hingga sekarang. Hal tersebut menunjukkan kuatnya tradisi ziarah masyarakat terhadap situs yang berada di kawasan Troloyo tersebut.

Makam Troloyo juga menarik karena keberadaannya berada di lingkungan Trowulan yang kaya akan peninggalan Majapahit. Kondisi ini menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang pertemuan antara jejak sejarah Islam dan warisan budaya Jawa masa Majapahit.

Dalam tradisi masyarakat, Syekh Jumadil Kubro dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa. Namun, sejumlah kisah mengenai tokoh dan makam di kawasan Troloyo juga berkembang melalui tradisi tutur sehingga perlu ditempatkan secara proporsional antara sejarah, tradisi, dan kajian arkeologis.

Keberadaan Troloyo memperlihatkan bahwa perkembangan Islam di Jawa berlangsung melalui proses panjang dan berinteraksi dengan masyarakat serta budaya yang telah lebih dahulu berkembang.

Kini, Makam Troloyo tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan religi. Pelestarian situs, penyediaan informasi sejarah yang akurat, serta pengelolaan kawasan secara berkelanjutan menjadi penting agar nilai sejarah Troloyo tetap terjaga dan dapat dipahami generasi mendatang.

mo/kr

— Iklan — PT INDOFAS AGRO NUSANTARA
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!