Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

PERTANIAN

Kampung Klasik Merjosari, Ketika Kreativitas Warga Menjadi Modal Pariwisata Kota Malang

Redaksi Redaksi • 27 Aug 2026 • 54 • 0 • 3 menit
Kampung Klasik Merjosari, Ketika Kreativitas Warga Menjadi Modal Pariwisata Kota Malang

KOTA MALANG – Pengembangan pariwisata tidak selalu harus bertumpu pada destinasi besar. Di tingkat kampung, kreativitas masyarakat dapat menjadi kekuatan baru ketika mampu menggabungkan budaya, kuliner, edukasi, ekonomi kreatif, dan partisipasi warga dalam satu konsep yang berkelanjutan.

Gagasan tersebut tercermin dalam penyelenggaraan Kampung Klasik IV di RW XI Kelurahan Merjosari, Kota Malang, yang berlangsung 26–29 Agustus 2026. Memasuki tahun keempat, kegiatan ini mulai dilihat bukan sekadar agenda perayaan kemerdekaan, tetapi sebagai embrio destinasi wisata berbasis masyarakat.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menilai Kampung Klasik memiliki karakter yang membedakannya dari kegiatan kampung pada umumnya. Identitas budaya sejumlah wilayah di Jawa Timur ditampilkan melalui anjungan yang dibangun dan dikelola secara swadaya oleh warga.

Konsep tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan pariwisata, tetapi sekaligus menjadi pelaku utama yang menentukan identitas dan arah pengembangan destinasi.

“Ini menjadi daya tarik tersendiri. Apa yang ditampilkan sangat berbeda karena dibuat secara swadaya,” ujar Wahyu saat membuka Kampung Klasik IV, Rabu (26/8/2026).

Menjaga Identitas di Tengah Perubahan

Kampung Klasik menghadirkan berbagai representasi budaya, antara lain Bondowoso, Tengger, Banyuwangi, serta kekayaan budaya Jawa Timur lainnya. Keragaman tersebut menjadi sarana memperkenalkan kembali identitas lokal kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Selain budaya, kuliner tradisional juga mendapat ruang. Makanan tempo dulu yang mulai sulit ditemui dihadirkan kembali sebagai bagian dari pengalaman pengunjung.

Langkah ini memiliki nilai lebih dari sekadar hiburan. Pelestarian kuliner tradisional dapat menjadi bagian dari upaya menjaga pengetahuan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga yang terlibat dalam produksi dan pemasaran makanan.

Gotong Royong sebagai Kekuatan Ekonomi Lokal

Keunggulan Kampung Klasik juga terletak pada pola pengelolaannya. Warga secara bersama-sama membangun konsep kegiatan dan menghidupkan setiap lingkungan.

Wahyu menilai keterlibatan pengurus RW dan RT menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan kegiatan. Menurutnya, koordinasi yang kuat di tingkat masyarakat dapat menghasilkan program yang memiliki manfaat sosial sekaligus ekonomi.

Model seperti ini berpotensi memberikan ruang bagi UMKM, pelaku kuliner, seniman, komunitas, hingga pelaku ekonomi kreatif untuk berkembang bersama.

Artinya, apabila dikelola secara konsisten, kegiatan kampung tidak hanya menghasilkan keramaian sesaat, tetapi dapat menciptakan perputaran ekonomi lokal dan memperkuat daya tarik kawasan.

Didorong Masuk Kalender Wisata

Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kota Malang membuka peluang Kampung Klasik untuk masuk dalam kalender wisata Kota Malang.

Namun, peluang tersebut membutuhkan pengembangan yang lebih terarah. Konsistensi penyelenggaraan, kualitas atraksi, kebersihan, aksesibilitas, promosi, keamanan, serta keterlibatan pelaku usaha lokal menjadi sejumlah aspek yang perlu diperkuat apabila kegiatan ini diarahkan menjadi destinasi wisata.

“Kalau dikemas terus dengan baik dan konsisten, saya kira ini bisa menjadi daya tarik wisata. Mungkin ke depan bisa menjadi bagian dari kalender wisata Kota Malang,” kata Wahyu.

Dorongan tersebut menjadi momentum bagi masyarakat Merjosari untuk melihat Kampung Klasik dalam perspektif yang lebih luas. Bukan hanya sebagai kegiatan tahunan, melainkan sebagai aset sosial dan budaya yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kawasan.

Kampung Klasik Merjosari menunjukkan bahwa masa depan pariwisata Kota Malang tidak hanya ditentukan oleh destinasi besar. Dari lingkungan warga, lahir potensi yang dapat memperkaya wajah pariwisata melalui kekuatan budaya, kreativitas, dan gotong royong.

Tantangannya kini adalah memastikan potensi tersebut tidak berhenti sebagai acara seremonial, tetapi berkembang menjadi ekosistem wisata masyarakat yang konsisten, inklusif, dan memberikan manfaat ekonomi secara nyata bagi warga.

Sumber Diskominfo 

— Iklan — Menteri Pertanian
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!