JEMBER — Lingkungan pertanian di sekitar sekolah memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber belajar yang kontekstual. Hal tersebut menjadi perhatian Tim Dosen PGSD FKIP Universitas Jember (UNEJ) melalui pengembangan pendekatan Agro-Journalism bagi guru sekolah dasar.
Kegiatan tersebut diwujudkan melalui Workshop Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Pendekatan Agro-Journalism dan Kearifan Lokal di Lingkungan Agraris bagi Guru Sekolah Dasar bersama Kelompok Kerja Guru (KKG) SD Gugus 3 Karangpring, Jember. Kegiatan dilaksanakan pada 30 Juli 2026.
Pendekatan Agro-Journalism mengajak guru memanfaatkan lingkungan agraris, aktivitas petani, komoditas pertanian hingga pengetahuan lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar melalui buku, tetapi juga melalui pengamatan langsung terhadap lingkungan di sekitarnya.
Ketua tim pengabdian, Isvina Unaizahroya, mengatakan bahwa lingkungan sekitar siswa memiliki banyak potensi yang dapat diolah menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
“Melalui agro-journalism, kami ingin mendorong guru untuk tidak melihat lingkungan sekitar hanya sebagai latar tempat tinggal siswa, tetapi sebagai sumber belajar yang dapat diolah menjadi pengalaman mengamati, bertanya, menulis, dan membagikan informasi,” ujar Isvina.
Dalam penerapannya, siswa diarahkan mengikuti tahapan 4M, yakni mengamati, menanya, menulis, dan membagikan. Siswa dapat mengamati kegiatan pertanian, melakukan wawancara sederhana dengan petani atau narasumber, kemudian mengolah hasil temuannya menjadi tulisan jurnalistik sederhana seperti berita maupun feature.
Menurut Isvina, pendekatan tersebut bukan untuk menjadikan siswa sebagai wartawan, melainkan memanfaatkan proses jurnalistik sebagai sarana melatih keterampilan saintifik sekaligus kemampuan literasi.
Melalui Agro-Journalism, pembelajaran diharapkan dapat menghubungkan literasi dasar, literasi sains dan literasi sosio-ekologis dengan kehidupan nyata siswa. Potensi pertanian yang selama ini berada dekat dengan kehidupan masyarakat pun dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang menarik.
Ketua KKG SD Gugus 3 Karangpring, Nita Lukita Sari, menyambut baik pendekatan tersebut. Menurutnya, lingkungan pertanian sebenarnya memiliki banyak potensi pembelajaran, namun guru membutuhkan pemahaman dan contoh konkret untuk mengintegrasikannya ke dalam kegiatan belajar.
Kegiatan pengabdian ini diharapkan tidak berhenti pada workshop, tetapi dapat diterapkan guru ketika kembali ke sekolah. Dengan pemanfaatan potensi lokal, pembelajaran diharapkan menjadi lebih kontekstual, kreatif dan dekat dengan pengalaman sehari-hari peserta didik.
tr/ws
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!