Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

Perikanan

Panen Melon Merdeka Giripeni Perkuat Kemandirian Pangan dan Ekonomi Petani

Redaksi Redaksi • 25 Aug 2026 • 18 • 0 • 3 menit
Panen Melon Merdeka Giripeni Perkuat Kemandirian Pangan dan Ekonomi Petani

KULONPROGO — Pemerintah Kabupaten Kulonprogo terus mendorong penguatan kemandirian pangan sekaligus pengembangan potensi ekonomi berbasis pertanian. Upaya tersebut tercermin dalam kegiatan Panen Melon Merdeka di Lumbung Mataraman Bulak Peni, Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan panen ini merupakan bagian dari pengembangan hortikultura yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan untuk membangun ekosistem pertanian ramah lingkungan serta menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Bupati Kulonprogo R Agung Setyawan yang menghadiri kegiatan tersebut mengapresiasi kualitas melon hasil budidaya petani Giripeni. Menurutnya, tingkat kematangan buah yang merata serta pembentukan jaring atau net yang baik menunjukkan bahwa pengelolaan nutrisi tanaman telah dilakukan secara optimal.

“Bagus. Kematangannya sudah sangat bagus, net-nya pun terbentuk dengan baik. Ini menunjukkan nutrisi yang diberikan cukup dan seimbang,” ujar Agung.

Ia menilai pengembangan pertanian di Bulak Peni perlu terus diarahkan pada penerapan praktik yang lebih ramah lingkungan, termasuk melalui pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis.

Agung juga melihat Lumbung Mataraman Bulak Peni memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas sebagai bagian dari ekosistem ekonomi dan wisata di Giripeni. Dukungan lanjutan yang diterima kawasan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mengembangkan potensi yang telah berjalan.

“Apa yang masih diperlukan untuk mendukung pengembangan ini akan kita upayakan,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo berharap pengembangan kawasan pertanian tersebut mampu meningkatkan optimisme petani sekaligus menarik minat generasi muda. Keterlibatan anak muda dinilai penting agar sektor pertanian tidak hanya dipandang sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai ruang usaha yang memiliki prospek ekonomi.

Paniradya Kaistimewan DIY Johanes mengatakan, Lumbung Mataraman Giripeni menunjukkan perkembangan positif sejak program tersebut mulai dilaksanakan pada 2025.

Program tersebut disebut telah memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi petani pengelola. Pada 2026, Lumbung Mataraman Giripeni kembali memperoleh revitalisasi senilai Rp500 juta.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat usaha pertanian sekaligus membuka ruang pengembangan bagi petani milenial.

“Harapan kami, ini menjadi penguatan baru bagi petani, khususnya petani milenial, agar semakin berkembang dan mendapatkan manfaat secara ekonomi maupun pertanian,” jelas Johanes.

Sementara itu, Lurah Giripeni Iswanto Adi Saputro menegaskan bahwa Lumbung Mataraman menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan Giripeni sebagai kalurahan mandiri pangan.

Pada 2025, Giripeni memperoleh Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Lumbung Mataraman sebesar Rp600 juta. Dana tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan sejumlah sarana dan komoditas pertanian, antara lain kebun bibit desa, greenhouse melon, bawang merah, cabai serta berbagai tanaman hortikultura.

Menurut Iswanto, panen melon tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa program kemandirian pangan telah berjalan secara nyata.

“Panen ini ingin kami tunjukkan kepada masyarakat bahwa di sini merupakan pusat kegiatan kemandirian pangan. Bukan sekadar seremoni, tetapi masyarakat bisa melihat langsung bahwa kegiatan pertanian ini berjalan dan memberikan manfaat,” ujarnya.

Panen Melon Merdeka Bulak Peni memperlihatkan bahwa pengembangan potensi desa dapat dibangun melalui perpaduan antara produksi pertanian, dukungan pemerintah, inovasi budidaya dan pemberdayaan masyarakat.

Bagi Giripeni, penguatan Lumbung Mataraman bukan sekadar mengejar hasil panen. Program tersebut diarahkan menjadi bagian dari fondasi kemandirian pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi generasi muda yang mulai melihat pertanian sebagai sektor usaha yang memiliki masa depan.

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo berharap pengembangan kawasan pertanian tersebut dapat meningkatkan optimisme petani sekaligus menarik minat generasi muda. Keterlibatan generasi muda dinilai penting agar sektor pertanian tidak hanya dipandang sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai bidang usaha yang memiliki prospek ekonomi.

Paniradya Kaistimewan DIY Johanes mengatakan Lumbung Mataraman Giripeni menunjukkan perkembangan positif sejak program tersebut mulai dilaksanakan pada 2025.

Program tersebut dinilai telah memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi para petani pengelola. Pada 2026, Lumbung Mataraman Giripeni kembali memperoleh dukungan revitalisasi senilai Rp500 juta.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat usaha pertanian sekaligus membuka peluang pengembangan bagi petani milenial.

“Harapan kami, ini menjadi penguatan baru bagi petani, khususnya petani milenial, agar semakin berkembang dan memperoleh manfaat, baik secara ekonomi maupun dalam bidang pertanian,” jelas Johanes.

Sementara itu, Lurah Giripeni Iswanto Adi Saputro menegaskan bahwa Lumbung Mataraman merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan Giripeni sebagai kalurahan mandiri pangan.

Pada 2025, Giripeni memperoleh Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Lumbung Mataraman sebesar Rp600 juta. Dana tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan sejumlah sarana dan komoditas pertanian, antara lain kebun bibit desa, greenhouse melon, bawang merah, cabai, serta berbagai tanaman hortikultura.

Menurut Iswanto, panen melon tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa program kemandirian pangan telah berjalan secara nyata.

“Panen ini ingin kami tunjukkan kepada masyarakat bahwa tempat ini merupakan pusat kegiatan kemandirian pangan. Bukan sekadar seremoni, tetapi masyarakat dapat melihat langsung bahwa kegiatan pertanian ini berjalan dan memberikan manfaat,” ujarnya.

Panen Melon Merdeka Bulak Peni menunjukkan bahwa pengembangan potensi desa dapat dilakukan melalui sinergi antara produksi pertanian, dukungan pemerintah, inovasi budidaya, dan pemberdayaan masyarakat.

Bagi Giripeni, penguatan Lumbung Mataraman tidak semata-mata berorientasi pada hasil panen. Program tersebut diarahkan untuk menjadi bagian dari fondasi kemandirian pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi generasi muda yang mulai memandang pertanian sebagai sektor usaha yang memiliki prospek masa depan.

kn/po

— Iklan — PT INDOFAS AGRO NUSANTARA
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!