Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

AGRI NEWS

Tinggalkan Gaji Rp2,5 Miliar, Engineer Huawei Memilih Turun ke Lahan Jagung

Redaksi Redaksi • 28 Aug 2026 • 58 • 0 • 3 menit
Tinggalkan Gaji Rp2,5 Miliar, Engineer Huawei Memilih Turun ke Lahan Jagung

HUNAN, CHINA — Gaji tinggi ternyata tidak selalu menjadi alasan seseorang bertahan dalam sebuah pekerjaan. Ning Boyu, peneliti teknologi yang pernah bekerja sebagai principal research engineer di Huawei, memilih meninggalkan penghasilan sekitar Rp2,5 miliar per tahun dan pulang ke kampung halaman untuk membantu keluarganya bertani jagung.

Ning mengundurkan diri dari Huawei pada 5 Agustus 2026. Di hari pertama membantu panen, ia hanya memperoleh upah 10 yuan. Nilainya sangat kecil dibandingkan pendapatan yang sebelumnya diterima, tetapi Ning mengaku menikmati pengalaman tersebut.

Keputusan itu menarik perhatian karena Ning bukan pekerja teknologi biasa. Ia merupakan lulusan sarjana dan doktoral dari University of Electronic Science and Technology of China dan tercatat telah menerbitkan 21 makalah ilmiah mengenai teknologi nirkabel. Pada 2023, Huawei merekrutnya melalui program talenta elite Top Minds atau Genius Youth.

Namun, perjalanan di industri teknologi membuat Ning mempertanyakan kembali arah kariernya. Ia menilai sistem evaluasi kinerja yang sangat berorientasi target tidak selalu sejalan dengan karakter penelitian jangka panjang. Perkembangan kecerdasan buatan juga membuatnya mempertanyakan masa depan keahlian yang sedang dibangunnya.

Di titik tersebut, bertani bukan sekadar pilihan pekerjaan dengan pendapatan lebih rendah. Bagi Ning, pengalaman di lahan jagung menjadi cara untuk melihat kehidupan dari sisi yang berbeda—jauh dari laboratorium, target korporasi, dan persaingan teknologi.

Meski demikian, langkah tersebut bukan berarti Ning meninggalkan dunia penelitian untuk selamanya. Ia telah menerima beasiswa pascadoktoral Marie Curie dan bersiap melakukan penelitian di KTH Royal Institute of Technology, Swedia. Setelah menyelesaikan program tersebut, ia berencana kembali ke China.

Kisah Ning menyampaikan pesan yang lebih luas: nilai sebuah pekerjaan tidak selalu dapat diukur dari besarnya gaji. Teknologi membutuhkan ilmuwan, sementara kehidupan juga membutuhkan petani yang memastikan pangan tetap tersedia.

Dari ruang riset ke ladang jagung, pilihan Ning menunjukkan bahwa karier dapat memiliki banyak bab. Dan dalam satu fase kehidupan, menjadi petani pun bisa menjadi pengalaman yang sama berharganya dengan menjadi seorang engineer.

 

— Iklan — PT INDOFAS AGRO NUSANTARA
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!