Lampung Selatan — Musim kemarau dan keterbatasan air mendorong sejumlah petani di Lampung Selatan melakukan perubahan pola tanam. Petani di Desa Umbul Niti memilih beralih dari tanaman padi ke sayuran seperti sawi dan pakcoy sebagai upaya menjaga produktivitas lahan di tengah kondisi air yang terbatas.
Peralihan komoditas tersebut menjadi salah satu strategi petani menghadapi kemarau panjang. Tanaman sayuran dinilai menjadi alternatif ketika ketersediaan air untuk budidaya padi semakin sulit.
Kondisi kekeringan memang menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian Lampung Selatan. Pemerintah daerah sebelumnya telah mengingatkan potensi kemarau panjang serta mendorong penguatan sumber air pertanian dan penggunaan varietas tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi minim air.
Pemerintah Provinsi Lampung juga memperkirakan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus hingga September. Untuk Lampung Selatan, durasi musim kemarau bahkan diperkirakan dapat berlangsung hingga sekitar 210 hari.
Kondisi tersebut membuat petani harus lebih adaptif dalam menentukan komoditas yang ditanam. Selain mempertimbangkan kebutuhan air, petani juga harus memperhitungkan biaya produksi dan peluang pasar agar pergantian komoditas tetap memberikan nilai ekonomi.
Sementara itu, kekeringan telah berdampak pada sejumlah lahan pertanian di Lampung Selatan. Berkurangnya debit sumber air membuat sebagian petani harus menggunakan pompa untuk mempertahankan tanaman padi, yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi.
Peralihan ke sawi dan pakcoy menunjukkan bagaimana petani mencoba mencari solusi di tengah tekanan perubahan iklim. Diversifikasi tanaman dapat menjadi pilihan bagi petani, namun tetap perlu didukung pengelolaan air, akses pasar, pendampingan teknis, serta perhitungan ekonomi yang matang.
Dengan strategi adaptasi yang tepat, lahan pertanian diharapkan tetap produktif meski menghadapi musim kemarau yang panjang.
Il/hum/red
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!