JEPANG — Sektor hortikultura Jepang mulai menguji alternatif penyerbukan tanaman setelah menghadapi persoalan ketersediaan lebah madu. Salah satu inovasi yang tengah diuji adalah pemanfaatan lalat bunga (hoverfly) untuk membantu proses penyerbukan di rumah kaca.
Uji coba tersebut berlangsung di wilayah Hokota, Prefektur Ibaraki, yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi melon utama Jepang. Kegiatan ini melibatkan koperasi pertanian JA Hokota bersama mitra distributor penyerbuk di Jepang dan Polyfly, perusahaan yang mengembangkan lalat bunga untuk kebutuhan penyerbukan tanaman.
Berdasarkan laporan Nihon Nogyo Shimbun yang dikutip dalam publikasi Hortidaily pada 3 Juni 2026, JA Hokota memiliki sekitar 170 anggota produsen melon dengan luas budidaya hampir 94 hektare. Koperasi tersebut mencatat penjualan tahunan sekitar 2,1 miliar yen dengan volume pengiriman sekitar 640.000 kotak melon berukuran 5 kilogram.
Pengujian lalat bunga dilakukan pada musim tanam 2025/2026. Lima produsen menggunakannya untuk tanaman melon, sementara lima produsen lainnya melakukan pengujian pada stroberi.
Alternatif Penyerbukan
Penggunaan lalat bunga menjadi perhatian karena serangga tersebut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan lebah madu. Lalat bunga tidak memiliki kemampuan menyengat sehingga dinilai lebih aman bagi pekerja yang beraktivitas di dalam rumah kaca.
Selain itu, aktivitas lalat bunga disebut relatif tidak bergantung pada kondisi cuaca seperti halnya penyerbuk tertentu. Serangga tersebut tetap berada di sekitar tanaman selama bunga tersedia.
Namun, teknologi tersebut bukan tanpa keterbatasan. Lalat bunga tidak memiliki naluri kembali ke sarang sehingga pengelolaannya berbeda dengan lebah madu yang dapat dipelihara dalam koloni.
Presiden Divisi Melon JA Hokota, Nagamine, menilai hasil awal pengujian cukup menjanjikan. Ia menyebut proses penyerbukan selama uji coba berjalan lebih lancar dibandingkan penggunaan lebah madu, meski evaluasi masih berlangsung.
Masih Tahap Pengujian
Hasil awal tersebut belum dapat menjadi kesimpulan bahwa lalat bunga akan sepenuhnya menggantikan lebah madu dalam produksi hortikultura Jepang. Efektivitas, biaya, pengelolaan populasi, serta konsistensi penyerbukan masih perlu diuji dalam skala dan kondisi yang lebih luas.
Langkah JA Hokota menunjukkan bahwa persoalan penyerbukan mulai mendorong pelaku hortikultura mencari teknologi alternatif. Bagi produksi melon dan stroberi yang sangat bergantung pada keberhasilan pembentukan buah, ketersediaan agen penyerbuk menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas.
Jika pengujian berlanjut dengan hasil positif, pemanfaatan lalat bunga berpotensi menjadi salah satu pilihan teknologi penyerbukan bagi pertanian terlindung di Jepang.
Sumber: Hortidaily, dengan rujukan pemberitaan Nihon Nogyo Shimbun, diterbitkan 3 Juni 2026. Informasi mengenai teknologi lalat bunga dan pengembangan produknya berasal dari Polyfly.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!