TABANAN — Profesi sebagai petani masih kerap dipandang kurang menarik bagi sebagian generasi muda. Namun, pandangan tersebut tidak berlaku bagi Ni Putu Meilanie Ary Sandi, perempuan berusia 23 tahun yang memilih menekuni sektor pertanian dan meneruskan usaha yang sebelumnya dijalankan sang ayah.
Berbasis di wilayah Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, Meilanie mengelola lahan pertanian dengan membudidayakan beragam komoditas, mulai dari sayuran hingga buah-buahan. Bagi dia, pertanian memiliki prospek usaha yang menjanjikan apabila dikelola secara tepat dan mengikuti perkembangan zaman.
Meilanie mengaku sebelumnya tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi petani. Seperti kebanyakan anak muda seusianya, ia lebih banyak berfokus pada pendidikan dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Pandangan tersebut mulai berubah ketika pandemi COVID-19 melanda sekitar 2020. Kondisi pandemi membuatnya mulai turun langsung ke lahan dan mencoba membudidayakan berbagai jenis sayuran.
“Saat itu saya mulai turun ke lahan dan mencoba menanam berbagai jenis sayuran. Dari situ saya sadar, ternyata bertani itu menyenangkan dan tidak selamanya identik dengan pekerjaan yang kotor dan melelahkan,” ujar Meilanie.
Dalam mengembangkan usaha pertaniannya, Meilanie memilih menerapkan sistem pertanian organik dengan memanfaatkan pupuk yang dibuat sendiri. Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas hasil pertanian.
Selain mengandalkan teknik budidaya, Meilanie memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pemasaran. Hasil pertanian dipasarkan melalui media sosial dan berbagai platform daring sehingga dapat menjangkau konsumen lebih luas.
Digitalisasi juga diterapkan dalam pengelolaan transaksi keuangan. Meilanie menggunakan layanan perbankan digital untuk mendukung aktivitas usahanya.
“Saya menggunakan BRImo untuk seluruh kebutuhan transaksi. Fitur-fiturnya sederhana dan sangat memudahkan operasional usaha. Saya berharap ke depannya perbankan seperti BRI dapat terus memberikan dukungan yang lebih luas bagi para petani,” katanya.
Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar Hery Noercahya mengatakan sektor pertanian dan UMKM memiliki peran penting dalam perekonomian daerah. Kedua sektor tersebut dinilai turut berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“BRI berkomitmen terus mendampingi petani dan pelaku usaha agar dapat berkembang secara berkelanjutan. Dukungan diberikan tidak hanya dalam bentuk pembiayaan, tetapi juga melalui pelatihan, digitalisasi usaha, hingga perluasan akses pasar agar mereka semakin tangguh bersaing,” tegas Hery.
Kisah Meilanie menunjukkan bahwa pertanian tidak selalu identik dengan pekerjaan konvensional. Bagi generasi muda, sektor ini juga dapat menjadi ruang untuk membangun usaha dengan memadukan budidaya, inovasi, teknologi digital, serta strategi pemasaran yang lebih luas.
Pilihan Meilanie menjadi gambaran bahwa regenerasi petani dapat tumbuh ketika sektor pertanian dipandang bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebagai peluang usaha yang dapat dikembangkan secara modern dan berkelanjutan.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!