Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

Teknologi

El Nino Hantui Jabar, Produksi Padi Terancam Merosot 15 Persen

Redaksi Redaksi • 08 Aug 2026 • 16 • 0 • 3 menit
El Nino Hantui Jabar, Produksi Padi Terancam Merosot 15 Persen

BANDUNG, ( AGRI INDONESIA NEWS ) – Ancaman El Nino dan musim kemarau yang berlangsung lebih kering mulai membayangi sektor pertanian Jawa Barat. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketersediaan air untuk lahan sawah dan menekan produksi padi, terutama di wilayah yang bergantung pada hujan.

Salah satu wilayah yang mulai menghadapi risiko serius adalah Kabupaten Bandung Barat. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) setempat memproyeksikan produksi gabah dapat mengalami penurunan sekitar 10–15 persen apabila tidak segera dilakukan intervensi pengairan. Sawah tadah hujan menjadi salah satu yang paling rentan terdampak kekeringan.

Penurunan debit air di sejumlah bendung juga menjadi perhatian. Kondisi tersebut dapat menghambat pasokan air ke lahan pertanian apabila kemarau berlangsung lebih panjang.

Pemerintah Bergerak Amankan Produksi

Menghadapi ancaman tersebut, pemerintah daerah dan Kementerian Pertanian mulai memperkuat langkah mitigasi. Di Jawa Barat, pemerintah mendorong percepatan tanam, optimalisasi irigasi, serta pemanfaatan pompa air untuk menjaga produktivitas sawah.

Kementerian Pertanian juga telah menjalankan Gerakan Percepatan Semai, Olah Lahan dan Tanam Serentak di sejumlah kabupaten di Jawa Barat sebagai langkah mengantisipasi dampak musim kemarau dan potensi El Nino.

Di Bandung Barat, sebanyak 157 unit pompa air telah disalurkan ke 13 kecamatan untuk membantu mengamankan pertanian pada musim tanam kedua 2026.

Jabar Masih Optimistis

Meski ancaman kekeringan meningkat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya masih optimistis produksi padi 2026 dapat melampaui capaian 2025. Petani juga didorong menggunakan varietas padi yang lebih toleran terhadap kondisi kekeringan.

Sebagai gambaran, Badan Pusat Statistik mencatat produksi padi Jawa Barat pada 2025 mencapai 10,23 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat 18,54 persen dibandingkan 2024.

Karena itu, ancaman El Nino menjadi tantangan yang perlu diantisipasi sejak dini. Ketersediaan air, percepatan tanam, pompanisasi, penggunaan varietas adaptif, serta penguatan infrastruktur irigasi menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas padi.

Bagi petani, kondisi ini juga menjadi pengingat pentingnya menyesuaikan kalender tanam dengan kondisi cuaca serta mengelola penggunaan air secara efisien agar risiko gagal panen dapat ditekan.

AGRI INDONESIA NEWS akan terus menyajikan informasi pertanian, perkembangan cuaca, dan kabar petani dari berbagai wilayah Indonesia.

SEO: El Nino Jawa Barat, produksi padi Jabar, kekeringan Jawa Barat 2026, petani Jawa Barat, produksi gabah, kemarau 2026, pertanian Indonesia, ancaman gagal panen.(PPL/red)

— Iklan — SELAMAT MAULID NABI MUHAMMAD
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!