Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

AGRI NEWS

El Nino Hantam Sukabumi, 8.925 Hektare Sawah Terancam Puso

Redaksi Redaksi • 15 Aug 2026 • 15 • 0 • 3 menit
El Nino Hantam Sukabumi, 8.925 Hektare Sawah Terancam Puso

SUKABUMI, — Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang mulai memberikan tekanan serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Krisis air membuat ribuan hektare lahan pertanian berada dalam ancaman kekeringan hingga berpotensi mengalami gagal panen atau puso.

Data Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi mencatat, dari total sekitar 62.000 hektare lahan persawahan, sebanyak 8.925 hektare pertanaman sawah maupun tegalan telah terdampak kekeringan. Kondisi ini terutama dirasakan di sejumlah wilayah Sukabumi Selatan yang menjadi salah satu kawasan penyangga pangan daerah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan tanaman padi yang baru memasuki fase pertumbuhan vegetatif menjadi kelompok yang paling rentan. Tanaman berusia sekitar satu hingga dua minggu membutuhkan pasokan air yang cukup agar dapat tumbuh dengan baik.

Sukabumi Selatan Jadi Wilayah Paling Tertekan

Kecamatan Ciemas, Jampangkulon, dan Surade termasuk wilayah yang mengalami tekanan cukup berat. Kawasan Sukabumi Selatan memiliki hamparan sawah sekitar 26.000 hektare.

Dalam kondisi normal, luas penanaman di kawasan tersebut dapat mencapai sekitar 650–800 hektare per hari. Namun akibat keterbatasan air, aktivitas tanam disebut turun drastis hingga sekitar 100 hektare per hari 

Situasi tersebut bukan hanya menjadi persoalan produksi pertanian, tetapi juga berpotensi memengaruhi pendapatan dan perekonomian petani apabila kekeringan berlangsung lebih lama.

Stok Pangan Lokal Masih Aman

Di tengah ancaman kekeringan, Pemerintah Kabupaten Sukabumi memastikan kondisi stok pangan lokal masih relatif aman. Produksi selama Januari hingga Juli 2026 disebut mencapai sekitar 680.000 ton, sehingga kebutuhan pangan masyarakat Sukabumi masih dapat ditopang.

Pemerintah daerah juga berharap kondisi cuaca membaik pada September hingga Oktober sehingga indeks pertanaman dapat kembali meningkat. Saat ini indeks pertanaman disebut masih berada di kisaran dua dan diharapkan dapat mencapai indeks pertanaman tiga.

Pompa Air hingga Sumur Bor Disiapkan

Berbagai langkah penanganan dilakukan untuk membantu petani menghadapi dampak kekeringan. Bantuan pompa air dan pembuatan sumur bor menjadi bagian dari upaya mempertahankan tanaman yang masih memungkinkan diselamatkan.

Selain itu, penyuluh pertanian dan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) turut dilibatkan untuk mendampingi petani di wilayah terdampak.

Namun, keterbatasan sumber air di wilayah selatan menjadi tantangan tersendiri. Debit sejumlah sungai, termasuk Sungai Cikaso, dilaporkan mengalami penurunan akibat minimnya hujan.

Perlindungan Sumber Air Jadi Kunci

Dinas Pertanian Sukabumi menilai penanganan kekeringan tidak dapat dilakukan hanya oleh satu instansi. Perlindungan kawasan hulu, pemulihan daerah resapan, serta penanaman kembali kawasan yang mengalami degradasi dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sumber air.

Ancaman El Nino menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan sangat bergantung pada ketersediaan air. Bagi petani Sukabumi, penyelamatan tanaman yang masih produktif sekaligus penguatan infrastruktur air menjadi langkah penting agar ancaman puso tidak semakin meluas.

Eko/red 

Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!