Kamis, 01 Oktober 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

Teknologi

Cari Kerja Susah, Banyak Gen Z Beralih ke Profesi Jadul

Redaksi Redaksi • 15 Aug 2026 • 13 • 0 • 3 menit
Cari Kerja Susah, Banyak Gen Z Beralih ke Profesi Jadul

JAKARTA — Persaingan mendapatkan pekerjaan formal yang semakin ketat membuat sebagian generasi Z mulai melihat kembali profesi yang dahulu dianggap kurang menjanjikan. Pekerjaan di sektor pertanian, peternakan, perdagangan kecil, kerajinan, hingga usaha berbasis keterampilan kini kembali dilirik sebagai pilihan untuk membangun penghasilan.

Fenomena ini menunjukkan perubahan cara pandang anak muda terhadap dunia kerja. Jika sebelumnya pekerjaan kantoran sering menjadi tujuan utama setelah lulus sekolah atau kuliah, kini semakin banyak anak muda yang mempertimbangkan menjadi petani, peternak, pelaku UMKM, pedagang, hingga wirausahawan.

Profesi yang kerap disebut “jadul” sebenarnya memiliki peluang besar apabila dikembangkan dengan pendekatan modern. Pertanian, misalnya, tidak lagi sebatas aktivitas mencangkul dan menanam. Anak muda dapat menggabungkan teknologi, pemasaran digital, pengolahan hasil pertanian, hingga penjualan melalui platform daring.

Begitu pula peternakan dan UMKM. Produk lokal dapat dikemas secara lebih menarik, dipasarkan melalui media sosial, serta dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa.

Bukan Kembali ke Masa Lalu, tetapi Menghidupkan Kembali Potensi Lama dengan Cara Baru

Perubahan tersebut menjadi peluang bagi desa untuk menciptakan lapangan kerja dari potensi yang tersedia. Lahan pertanian, peternakan, pangan lokal, wisata edukasi, dan UMKM dapat menjadi sumber ekonomi apabila dikelola secara terpadu.

Bagi Gen Z, pilihan tersebut juga membuka ruang untuk menjadi pencipta pekerjaan, bukan sekadar pencari kerja. Dengan kreativitas dan teknologi, profesi tradisional dapat memiliki wajah baru yang lebih produktif dan bernilai ekonomi.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah pekerjaan itu terlihat modern atau jadul. Yang lebih penting adalah apakah pekerjaan tersebut mampu memberikan penghasilan, kemandirian, dan masa depan yang berkelanjutan.

Ketika lapangan kerja formal semakin kompetitif, desa dan sektor produktif justru dapat menjadi ruang baru bagi generasi muda untuk tumbuh. Dari sawah, kandang, kebun, dapur UMKM, hingga pasar digital, peluang ekonomi sebenarnya masih terbuka lebar.

jia/hum

Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!