Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

Teknologi

Alsintan Gerakan Ekonomi Desa, Kaum Muda Mulai Lirik Pertanian

Redaksi Redaksi • 12 Aug 2026 • 13 • 0 • 3 menit
Alsintan Gerakan Ekonomi Desa, Kaum Muda Mulai Lirik Pertanian

Serang, Banten – Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Kementerian Pertanian mulai memberikan dampak nyata terhadap aktivitas pertanian di tingkat desa. Selain meningkatkan efisiensi usaha tani, mekanisasi juga membuka peluang ekonomi baru sekaligus mendorong semakin banyak generasi muda melihat pertanian sebagai sektor yang modern dan menjanjikan. 

Dampak tersebut dirasakan Maheki Yahdi, 39 tahun, petani jagung asal Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang. Pada 2026, Kelompok Tani Warga Mulia yang diikutinya menerima bantuan traktor roda empat dari Kementerian Pertanian.

Menurut Maheki, keberadaan traktor membuat proses pengolahan lahan menjadi lebih cepat dan efisien. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga dan waktu cukup besar kini dapat dilakukan dengan dukungan mekanisasi.

“Bantuan ini sangat membantu kami dalam pengolahan lahan sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien,” ujar Maheki, Sabtu (8/8).

Yang menarik, manfaat alsintan tidak hanya dirasakan oleh petani yang menerima bantuan. Kehadiran teknologi tersebut mulai mengubah pandangan pemuda desa terhadap profesi petani.

Generasi muda yang sebelumnya menganggap pertanian sebagai pekerjaan berat dan identik dengan cara tradisional mulai melihat adanya peluang baru. Dengan mekanisasi, pekerjaan di lahan menjadi lebih ringan, cepat, dan berpotensi memberikan hasil ekonomi yang lebih baik.

Membuka Peluang Usaha Baru

Alsintan juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi desa. Pemanfaatan alat secara bersama dapat menciptakan peluang usaha jasa pengolahan lahan, operator mesin, perawatan dan perbaikan alsintan, hingga berbagai usaha pendukung lainnya.

Kondisi tersebut membuat pertanian tidak hanya membutuhkan tenaga kerja di lahan, tetapi juga sumber daya manusia yang memiliki kemampuan mengoperasikan teknologi, mengelola usaha, melakukan perawatan mesin, serta mengembangkan bisnis pertanian dari hulu hingga hilir.

Dengan demikian, mekanisasi dapat menjadi salah satu jembatan penting dalam proses regenerasi petani. Anak muda tidak harus hanya menjadi pekerja di sektor pertanian, tetapi dapat tumbuh menjadi operator alsintan, pengusaha jasa pertanian, petani profesional, maupun wirausahawan yang mengembangkan produk pertanian bernilai tambah.

Pertanian Semakin Dekat dengan Generasi Muda

Pengalaman di Desa Kamasan menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi salah satu faktor yang mengubah persepsi generasi muda terhadap pertanian.

Ketika pertanian didukung mekanisasi, inovasi dan pengelolaan usaha yang profesional, sektor ini memiliki ruang yang semakin besar untuk menjadi sumber pendapatan sekaligus lapangan kerja di pedesaan.

Tantangannya ke depan adalah memastikan bantuan alsintan dikelola secara tepat, dimanfaatkan secara optimal, serta diikuti pelatihan dan pendampingan agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas oleh petani dan masyarakat desa.

Alsintan pada akhirnya bukan sekadar mesin untuk mengolah lahan. Jika dikelola secara bersama dan produktif, teknologi tersebut dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa sekaligus membuka jalan bagi lahirnya generasi muda yang melihat pertanian sebagai profesi masa depan.

Hum/red

Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!