TANA TORAJA – Kekeringan melanda sejumlah lahan pertanian di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut mengancam 1.832,25 hektare lahan pertanian mengalami gagal panen akibat berkurangnya pasokan air irigasi.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Tana Toraja, Yohanis Some, mengatakan kondisi kekeringan berkaitan dengan musim kemarau yang berlangsung sejak Juli 2026 dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus.
“1.832,25 hektare lahan pertanian terancam gagal panen. Ini memang kondisi alam yang tidak kita prediksi,” kata Yohanis saat dikonfirmasi pada Senin (13/8/2026).
Berkurangnya ketersediaan air membuat tanaman padi di sejumlah wilayah menghadapi risiko kekurangan air, terutama pada lahan yang mengandalkan jaringan irigasi.
Pemerintah daerah kini menghadapi tantangan untuk menjaga keberlangsungan produksi pertanian sekaligus mengurangi potensi kerugian yang dialami petani. Langkah penanganan terhadap dampak kekeringan menjadi penting mengingat sektor pertanian merupakan salah satu penopang ekonomi masyarakat di Tana Toraja.
Kondisi ini juga menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sumber daya air, kesiapan menghadapi musim kemarau serta strategi mitigasi bagi petani agar risiko gagal panen dapat ditekan.
Data mengenai ancaman gagal panen tersebut sebelumnya diberitakan oleh detikSulsel berdasarkan keterangan Dinas Pertanian dan Perikanan Tana Toraja.
Hum/red
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!